RAGAM LOMBOK - Peringatan Hari Gizi Nasional di Lombok Timur, dimanfaatkan sebagai momentum untuk menegaskan pentingnya penanganan isu gizi, stunting, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kegiatan tersebut digelar bersama Wahana Visi Indonesia dan menjadi ruang evaluasi atas berbagai aspirasi masyarakat yang belakangan disampaikan terkait persoalan gizi dan pelayanan SPPG di daerah.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Lotim, Edwin Hadiwijaya, menyampaikan Pemda kini menyoroti perbedaan data yang beredar di publik. Dimana angka stunting NTB yang disebut mencapai 13,9 persen dinilai perlu dikaji lebih lanjut, mengingat data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) sebelumnya menunjukkan angka yang lebih tinggi. 

Penurunan yang sangat signifikan menimbulkan pertanyaan mengenai sumber data dan metode penghitungan, mengingat penurunan 1 persen per bulan dinilai tidak realistis tanpa intervensi luar biasa.

Untuk memastikan validitas data, Tim Percepatan Penurunan Stunting terus melakukan verifikasi lapangan, termasuk turun langsung ke sejumlah kecamatan. 

Hasil pemetaan tersebut akan dipaparkan dalam rapat bersama Bappeda sebagai dasar penyusunan kebijakan lanjutan. Pemerintah juga menekankan penguatan peran dapur gizi untuk menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai kelompok paling rentan stunting, guna memastikan intervensi gizi berjalan tepat sasaran.(RL).