RAGAM LOMBOK || Nur Paridah Hidayah (39), seorang perempuan dengan keterbatasan fisik, tetap menunjukkan semangat bekerja sebagai pencuci ompreng di salah satu Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski harus bergerak dengan bantuan alat penyangga kaki, ia mampu menjalankan tugasnya bersama pekerja lain tanpa hambatan berarti.
Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Nur Paridah untuk berkontribusi dalam operasional dapur MBG yang setiap hari melayani ratusan anak sekolah. Sebelumnya, ia bekerja sebagai penjual sate keliling, namun kondisi fisiknya membuatnya tidak mampu berjualan secara rutin. Kesempatan bekerja di dapur MBG menjadi titik balik bagi dirinya untuk mendapatkan penghasilan tetap.
“Awalnya saya ragu apakah bisa mengimbangi kecepatan kerja di dapur, tetapi di sini setiap orang diberi peran sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Nur Paridah saat ditemui Selasa (10/2/2026). Ia mengaku lingkungan kerja yang inklusif serta dukungan rekan-rekan membuatnya dapat bekerja dengan nyaman dan percaya diri.
Pengelola dapur MBG juga menyesuaikan area kerja agar ramah disabilitas, seperti penempatan peralatan dalam jangkauan yang mudah untuk mengurangi mobilitas berlebih. Koordinator dapur menyebut pekerja disabilitas sering menunjukkan ketelitian dan fokus tinggi dalam menjalankan tugas, sehingga berkontribusi positif terhadap kualitas layanan makanan.
Sebagai orang tua tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga, Nur Paridah bersyukur pekerjaan tersebut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi dan membiayai anaknya. Ia mengaku merasakan kebanggaan tersendiri karena pekerjaannya ikut memastikan anak-anak menerima makanan bersih dan layak.
Ketua Dewan Pembina Himpunan Mitra Dapur (DPHMD) Generasi Emas (Gemas) Daeng Palori berharap kisah Nur Paridah menjadi contoh bagi dapur MBG lainnya agar tidak membeda-bedakan pekerja berdasarkan kondisi fisik maupun latar belakang sosial.
