RAGAM LOMBOK || Kelangkaan LPG 3 KG di Lombok Timur dalam beberapa waktu terakhir diduga dipicu oleh kepanikan masyarakat yang berujung pada aksi pembelian berlebih hingga indikasi penimbunan.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menjelaskan, fenomena ini tidak lepas dari kekhawatiran warga terhadap kondisi yang berkembang, baik dari dalam maupun luar daerah. Masyarakat yang semakin mudah mengakses informasi, termasuk dari sosial media dan siaran TV, turut memengaruhi pola pikir dan perilaku konsumsi.
“Warga kita ini pintar, banyak yang mengikuti perkembangan di luar, seperti kejadian di India terkait kelangkaan. Kekhawatiran itu kemudian memicu kepanikan, sehingga muncul perilaku membeli dalam jumlah besar,” ungkapnya, Selasa (7/4).
Selain itu, momentum arus mudik dari Mataram dan daerah lain ke Lombok Timur menjelang Lebaran juga menjadi salah satu faktor meningkatnya permintaan. Kondisi ini dinilai wajar, mengingat banyak warga yang kembali ke kampung halaman dan melakukan pembelian kebutuhan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
Namun demikian, Bupati mengingatkan bahwa pembelian berlebih justru dapat merugikan masyarakat lain karena berpotensi mengurangi ketersediaan barang di pasaran.
“Kadang masyarakat lupa, membeli lebih dari kebutuhan itu sama saja mengambil jatah orang lain,” tegasnya.
Meski sempat terjadi kelangkaan di awal, kondisi tersebut berangsur membaik setelah adanya tambahan pasokan dari Pertamina sejak H+1 Lebaran hingga sepekan berikutnya.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap mewaspadai adanya indikasi penimbunan. Bupati menduga, praktik tersebut tidak hanya dilakukan oleh oknum tertentu, tetapi juga kemungkinan terjadi di tingkat masyarakat akibat perilaku konsumsi berlebih.
Pemerintah daerah pun memastikan akan memperketat pengawasan distribusi guna mencegah terjadinya penimbunan dan menjaga stabilitas pasokan di Lombok Timur.(RL).
