RAGAM LOMBOK || Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama Pertamina, agen, dan perwakilan pangkalan gas elpiji menggelar rapat koordinasi di Ruang Rapat Bupati, Senin (13/4). Rapat tersebut membahas sulitnya masyarakat memperoleh gas elpiji 3 kilogram yang belakangan dikeluhkan warga.

Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengakui kelangkaan LPG 3 kg terjadi sejak akhir Ramadan hingga saat ini. Ia menilai kondisi tersebut dipicu oleh berbagai isu yang tidak benar, sehingga memicu kepanikan masyarakat dan pembelian berlebihan (panic buying).

“Isu yang berkembang tidak benar, tetapi masyarakat terlanjur panik dan membeli dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Selain itu, Tim Satgas Elpiji juga menemukan adanya penyalahgunaan gas bersubsidi tersebut. Sejumlah pelaku usaha, termasuk pengusaha ayam, diketahui menggunakan LPG 3 kg yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat miskin.

“Masih banyak yang tidak boleh pakai ternyata menggunakan elpiji 3 kg ini, padahal sudah jelas tertulis peruntukannya,” tegas Bupati.

Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Lombok Timur yang meningkat signifikan, bahkan disebut sebagai yang tertinggi kedua di NTB pada 2025. Hal ini berdampak pada meningkatnya daya beli masyarakat, termasuk dalam penggunaan LPG.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bupati meminta Pertamina melakukan super ekstra dropping LPG 3 kg guna menekan panic buying. Ia memastikan langkah tersebut akan dibarengi dengan pengawasan ketat oleh Satgas Elpiji.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Lombok Timur juga akan mengusulkan penggunaan data desil dalam distribusi LPG 3 kg agar penyalurannya tepat sasaran.

“Ini salah satu upaya untuk memastikan distribusi lebih tepat kepada masyarakat miskin,” katanya.

Bupati juga mengingatkan para agen agar tetap menyalurkan LPG sesuai ketentuan dan tidak mengurangi jatah pangkalan.

Menanggapi usulan tersebut, Sales Branch Manager (SBM) Rayon 1 NTB Pertamina Patra Niaga, Tommy Wisnu Ramdan, menyatakan pihaknya akan melaporkan permintaan tambahan tersebut ke pusat.

Ia menjelaskan, selama periode 1–14 April, penyaluran LPG 3 kg di Lombok Timur, baik reguler maupun fakultatif, mencapai 40.556 tabung per hari. Jumlah tersebut meningkat sekitar 5.000 hingga 6.000 tabung dari distribusi normal.

Sementara itu, salah satu agen LPG, Reza, mengungkapkan pihaknya telah mengimbau pangkalan agar membatasi pembelian masyarakat maksimal satu tabung per orang. Namun, tren saat ini menunjukkan masyarakat cenderung membeli sekaligus tabung dan isinya.

“Para agen tidak bisa berbuat banyak, bahkan Pertamina juga kewalahan. Pembelian masyarakat saat ini cenderung berlebihan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, meskipun penyaluran tambahan sudah melebihi alokasi normal, pihaknya tetap mengingatkan agar penjualan dilakukan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Diketahui, di Lombok Timur terdapat sekitar 1.000 kandang ayam, sebagian di antaranya menggunakan LPG 3 kg. Selain itu, mitra Dapur MBG juga ditemukan memanfaatkan gas bersubsidi tersebut.

Sekretaris Daerah Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik menyampaikan bahwa pihaknya bersama Satgas telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan operasi pasar untuk menjaga stabilitas pasokan.

Menurutnya, dengan adanya ekstra dropping dan skema fakultatif, seharusnya ketersediaan LPG sudah mencukupi. Ia juga menegaskan bahwa isu tersendatnya pasokan tidak benar.

“Alokasi saat ini sudah melebihi penyaluran normal, sehingga diharapkan kondisi segera kembali normal,” tandasnya.