RAGAM LOMBOK || Di tengah tantangan ketersediaan air untuk lahan pertanian di musim kemarau, para jurnalis warga perempuan bersama konten kreator mengampanyekan konsep irigasi tetes (drip irrigation) di lahan kering Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Kampanye ini dilakukan melalui media sosial dan media alternatif dengan memanfaatkan lahan pertanian milik warga setempat sebagai lokasi contoh.

Irigasi tetes adalah metode pemberian air secara perlahan langsung ke zona akar tanaman melalui jaringan pipa berlubang kecil. Teknis ini dinilai lebih efisien karena hanya sedikit air yang terbuang akibat penguapan atau limpasan air hujan.

Ketua Media Speaker Kampung Hajad Guna Roasmadi menjelaskan, lahan pertanian warga setempat dijadikan tempat bagi para jurnalis warga perempuan dan konten kreator untuk mengampanyekan konsep irigasi tetes.

"Ini cara kami dari jurnalis warga untuk mengampanyekan kepada warga lainnya, agar menggunakan irigasi tetes di lahan kering di Lombok Timur," ujar Hajad.

Hajad mengaku kampanye yang dilakukan oleh jurnalis warga perempuan dan konten kreator tersebut juga didukung oleh organisasi non-pemerintah (NGO) internasional Uni Eropa dan Pena Bulu yang konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat untuk ekonomi hijau, khususnya memanfaatkan lahan kering milik warga.

"Semoga kampanye yang kami lakukan ini menjadi edukasi bagi warga untuk ekonomi hijau di Lombok Timur," tutupnya.

Inisiatif ini sejatinya digerakkan oleh sekelompok petani muda setempat. Salah seorang petani, Yonk (42), mengatakan ide tersebut muncul setelah mereka mengikuti pelatihan pertanian lahan kering dan mempelajari konsep ini melalui media sosial.

"Kami belajar bahwa air yang sedikit pun bisa maksimal jika diberikan tepat sasaran. Di sini musim kemarau panjang, sumur mulai surut. Dengan irigasi tetes, kami bisa menanam cabai dan tomat tanpa boros air," ujarnya saat ditemui di ladang miliknya pada Selasa (6/5).

Sistem yang mereka gunakan terbilang sederhana. Pipa utama disambungkan ke tandon air yang ditinggikan sekitar satu meter. Dari pipa utama, selang-selang kecil berlubang dialirkan sejajar dengan barisan tanaman. Air menetes setetes demi setetes, menjaga tanah tetap lembap tanpa menggenang.

Petani lain, Yung, menambahkan, "Kami anggap ini konsep yang sangat efektif. Lahan kering yang kami miliki lebih berguna meskipun di musim kemarau."

Kepala Dusun Monek, Desa Suela, Kecamatan Suela, Rasid Ridoh, mengapresiasi langkah warganya. Menurutnya, adaptasi teknologi tepat guna ini membantu ketahanan pangan desa saat musim kering.

"Kami tidak punya irigasi teknis dari bendungan. Selama ini andalkan tadah hujan. Sekarang ada alternatif, semoga bisa ditiru petani lainnya," kata Ridho.

Ridho mengungkapkan ke depannya ia akan mensosialisasikan konsep irigasi tetes kepada masyarakat lainnya, khususnya warga yang memiliki lahan kering.

"Tetap ada kesulitan kita untuk sosialisasi kepada masyarakat, seperti mensosialisasikan pupuk organik. Sampai saat ini masyarakat masih memilih non-organik, meskipun sebagian warga menggunakan pupuk organik," jelasnya.

Ridho berharap masyarakat lainnya bisa menerapkan konsep irigasi tetes guna meminimalisir biaya dan membuat lahan kering menjadi bermanfaat.

"Kami berharap warga menggunakan konsep ini dan pemerintah daerah memberikan pendampingan lebih lanjut, terutama bantuan teknis dan akses bahan baku yang lebih murah, agar irigasi tetes bisa menjangkau lebih banyak petani di Lombok Timur," tutupnya.