RAGAM LOMBOK || Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor menggelar kegiatan visiting lecturer dan Ngaji Akademik yang diikuti civitas akademika, khususnya para dosen, Rabu (12/8). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat tradisi akademik sekaligus meningkatkan kapasitas dosen dalam menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Wakil Rektor I IAI Hamzanwadi Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., mengatakan civitas akademika memiliki banyak teladan dalam menjalankan profesi sebagai dosen, salah satunya sosok pendiri Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah, Maulana Syekh Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Menurutnya, Maulana Syekh merupakan ulama, mursyid sekaligus pejuang yang meninggalkan nilai-nilai perjuangan dan akademik yang relevan untuk terus dikaji dan diteladani. “Nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai akademik yang ditinggalkan Maulana Syekh sangat lengkap untuk kita kaji dan kita tiru dalam menjalani profesi sebagai seorang dosen,” ujarnya.

Abdul Hayyi menegaskan tradisi akademik dan keilmuan harus terus dihidupkan di lingkungan IAI Hamzanwadi Pancor. Terlebih, nama besar Hamzanwadi melekat dengan sosok ulama dan ilmuwan yang memiliki reputasi luas, baik dalam dunia keislaman maupun dalam konteks keindonesiaan. Menghidupkan tradisi belajar dan memaksimalkan profesi dosen kapan pun dan di mana pun, kata dia, merupakan bagian dari meneruskan perjuangan Maulana Syekh.

Kegiatan tersebut menghadirkan Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Dr. Muhammad Husnur Rofiq, M.Pd. Ia merupakan mantan Rektor IAIN Jember periode 2004–2012 dan dikenal aktif dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam.

Dalam pemaparannya, Prof. Muhammad Husnur Rofiq menekankan pentingnya dosen untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas diri melalui literasi serta pengembangan keilmuan. Sosok Hamzanwadi, menurutnya, dapat menjadi inspirasi bagi dosen IAI Hamzanwadi Pancor dalam mentransformasi sekaligus merevitalisasi nilai-nilai perjuangan dan keilmuan yang diwariskan Maulana Syekh.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana IAI Hamzanwadi Pancor, Prof. Dr. Muhammad Taufik, M.Ag., menekankan bahwa profesi dosen harus dipandang sebagai bagian dari ibadah. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain merupakan profesi mulia sehingga dosen dituntut menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh sekaligus terus meningkatkan kompetensinya.

“Profesi dosen adalah bagian dari ibadah yang mulia, yakni mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada sesama,” jelasnya. Ia menambahkan, semakin tinggi kapasitas seorang dosen, semakin besar pula manfaat ilmu yang dapat diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat.

Abdul Hayyi mengatakan kegiatan visiting lecturer dan Ngaji Akademik tersebut sejalan dengan arahan Rektor IAI Hamzanwadi Pancor agar civitas akademika terus mengembangkan kapasitas diri. Ia berharap tradisi belajar yang terus dibangun dapat membuka ruang kebermanfaatan yang lebih luas bagi civitas akademika maupun masyarakat.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IAI Hamzanwadi Pancor dan UIN KHAS Jember. Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, di antaranya pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi dan peningkatan sumber daya manusia. Kegiatan juga diakhiri dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol penguatan hubungan dan sinergi kedua institusi dalam bidang pendidikan tinggi.