RAGAM LOMBOK || Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur terus melakukan distribusi atau dropping air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Upaya tersebut dilakukan sejak penetapan status siaga darurat pada September 2026 hingga memasuki puncak musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, mengatakan hingga akhir Oktober 2026, kekeringan berdampak pada sekitar 19.000 jiwa yang tersebar di tiga kecamatan dan enam desa. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD terus melakukan penyaluran dengan melibatkan berbagai pihak melalui kolaborasi lintas sektor.

Meski musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang, mulai September hingga Desember 2026, jumlah wilayah terdampak kekeringan di Lombok Timur menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dan laporan yang diterima BPBD, wilayah terdampak yang sebelumnya mencapai delapan kecamatan kini berkurang menjadi tiga kecamatan. Sementara jumlah desa yang melaporkan dampak kekeringan turun dari 45 desa menjadi enam desa, dengan jumlah warga terdampak berkurang dari sekitar 165.000 jiwa menjadi 19.000 jiwa.

Lalu Mulyadi menjelaskan, meskipun durasi musim kemarau diperkirakan lebih panjang, intensitasnya diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah. BPBD juga terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi potensi peningkatan jumlah warga terdampak, termasuk menindaklanjuti laporan masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih. Sebelumnya, pemerintah daerah juga telah melaksanakan salat istisqa sebagai salah satu ikhtiar menghadapi kekeringan.

Saat ini, BPBD Lombok Timur memfokuskan penyaluran air bersih di Kecamatan Jerowaru, Suela, dan Terara. Pemerintah berharap dampak kekeringan tidak meluas ke wilayah lain dan musim kemarau segera berakhir, sehingga masyarakat dapat kembali memenuhi kebutuhan air bersih secara normal.