RAGAM LOMBOK || Ridwan, bakal calon Kepala Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, menjalani proses pendaftaran pada Selasa (26/10) dengan didampingi dua perempuan yang disebutnya sebagai sosok hebat dalam hidupnya, yakni ibu dan istri, serta kakak kandung, ipar, dan perwakilan pemuda.
Ridwan mengungkapkan, dirinya sengaja tidak menghadirkan tim maupun para loyalis saat proses pendaftaran. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah untuk menjaga situasi tetap kondusif sekaligus menghindari potensi gesekan di tengah masyarakat.
Menurutnya, langkah itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga pergerakannya agar tidak terlalu cepat terbaca oleh para rivalnya. Terlebih, terdapat 4 bakal calon kepala desa yang berasal dari kampung yang sama.
“Kenapa kemudian saya tidak menghadirkan loyalis dan tim, agar gerakan tidak terlalu cepat dibaca oleh para rival. Di samping itu, untuk menghindari terjadinya gesekan di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, ke empat bakal calon yang berasal dari kampung yang sama tersebut memiliki niat baik untuk berikhtiar dan mengabdikan diri demi membangun Desa Rumbuk Timur. Karena itu, ia berharap proses pemilihan kepala desa dapat berjalan dengan baik tanpa memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Terkait persyaratan pencalonan, Ridwan menyebut pihaknya telah menyerahkan persyaratan dukungan berupa KTP kepada panitia. Ia bersama tim berupaya memenuhi dukungan tersebut hingga melebihi 10 persen dari ketentuan yang dipersyaratkan. Baginya, proses pencalonan ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk turut berkontribusi dalam pembangunan Desa Rumbuk Timur yang dicintai bersama.
Dirinya mengaku optimistis dapat membangun desa dengan mengandalkan pengalaman bertahun-tahun serta relasi yang telah terjalin baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendorong pembangunan desa yang lebih maju dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan desa ke depan tidak bisa hanya bergantung pada anggaran yang tersedia. Dengan keterbatasan anggaran desa, diperlukan langkah inovatif serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk anggota DPRD kabupaten dan provinsi, guna memperjuangkan program pembangunan yang dibutuhkan masyarakat.
Ia menilai, pemimpin desa harus mampu membangun komunikasi dan kerja sama dengan para pemangku kepentingan, sehingga berbagai program pembangunan dapat diupayakan melalui dukungan lintas sektor. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membantu desa mengatasi keterbatasan anggaran sekaligus mempercepat pembangunan infrastruktur.
Terlebih, menurutnya, alokasi anggaran untuk program ketahanan pangan yang sebelumnya diharapkan dapat mendukung pembangunan infrastruktur pertanian turut memengaruhi ketersediaan anggaran untuk sejumlah kebutuhan desa. Infrastruktur seperti irigasi, jalan usaha tani, talut, hingga rabat beton merupakan fasilitas penting yang dibutuhkan masyarakat untuk menunjang aktivitas pertanian dan meningkatkan perekonomian.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pemimpin desa ke depan harus memiliki kemampuan berinovasi, membangun relasi, dan menjalin kolaborasi dengan pihak-pihak yang tepat. Dengan strategi tersebut, ia optimistis pembangunan desa tetap dapat berjalan maksimal meskipun dihadapkan pada keterbatasan anggaran, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
